Perjalanan Persahabatan, Intrik Dan Oxford abad 18|Babel-R.F Kuang
Imajinasiku liar, ikut berpetualang bersama Robin, Voltaire, Letty, dan Rumi. Empat tokoh utama yang menghidupkan cerita novel ini. Aku ikut masuk dalam sebuah kehidupan perkuliahan di fakultas bahasa Oxford pada tahun 1836. Siapa yang tidak bangga dapat menjadi salah satu yang berkesempatan menjadi mahasiswa di sana. Oxford begitu terkenal dan menjadi magnet bagi calon mahasiswa di seluruh dunia. Berlomba-lomba memburu kursi panas pendidikan dan menjadikannya salah satu kampus sangat bergengsi hingga saat ini.
Bangga, haru, dan pastinya semangat membara untuk mengenyam bangku kuliah, memenuhi pikiran jika aku berkesempatan menjadi salah satu yang terpilih menempati kursi panas tersebut. Ada perjuangan yang tak kenal lelah, ada cerita pilu yang mungkin tak terpikirkan sebelumnya. Karena tidak semua orang bisa berkesempatan diterima menjadi mahasiswa di sana. Begitupun dengan tokoh di novel Babel ini. Kesempatan yang tidak datang setiap saat, sayang rasanya bila harus di buang dengan percuma.
Perkenalanku dengan novel ini adalah karena intensitas lalu lalangnya yang begitu sering didunia sosial media perbukuan. Mengharuskanku untuk memasukkannya ke dalam daftar TBR di tahun 2026. Sebuah keputusan yang berat sebetulnya, karena daftar To Be Readku yang panjang dan meliuk seperti ular yang mengancam. Namun ada sebuah percikan penasaran didada "Jangan sampai aku melewatkan kesempatan membaca buku ini!" Kira-kira intimidasi tersebutlah yang memantapkanku untuk memasukannya ke dalam daftar baca. Walau sempat di tindas dengan lirikan sinis para tumpukan buku yang belum terbaca.
Sehingga pada suatu kesempatan yang datang dengan mantap, ku putuskan mulai “meng-obrak-abrik” perpustakaan untuk meminjam e-book, agar dapat ku tuntaskan rasa penasaranku akan cerita didalamnya. Hingga sampailah aku pada ketidaknyamanan membaca versi e-book. Semua terjadi karena sebuah alasan: limitasi waktu penyelesaian. Aku sempat terseok-seok membacanya, namun buku ini sukses ku tamatkan dalam waktu 2 bulan.
Berpacu dengan waktu yang sempit. Seperti itulah penggalan situasi yang mewakili keterburu-buruanku.Membaca yang harusnya khusyuk masyuk menjadi terburu-buru bak empat tokoh yang sedang dikejar dateline menterjemahkan sebuah tulisan dan karya namun terpaksa harus di kebut dalam semalam. Padahal cerita kuartet Oxfordian ini seharusnya dibaca dengan seksama, tidak hanya sekilas lalu saja.
Sampai sini harus ku akui walau berkali-kali aku melihat banyak teman-teman buku membahas pengalaman membaca mereka. Akan tetapi ada sebuah tangkapan otakku yang salah! Ku pikir isi didalamnya akan begitu ringan saja! Namun seperti makan nasi putih, yang adalah makanan utama yang berat. Cerita didalamnya seperti diberi pemberat yang menghujam hingga ke akar. Kehingar-bingaran dan fancy kehidupan perkuliahan, dibumbui dengan penyedap politik, dan protein intrik yang membangkitkan selera untuk melahapnya dengan kemantapan hati seorang yang sedang meditasi. Tenang dan penuh perenungan.
Aku diberikan kesempatan untuk berkenalan dengan masing-masing tokoh utamanya. Dari latar kehidupan yang berbeda, namun dari perkenalan yang dalam itulah yang membuat cerita tersebut saling berkesinambungan menjadi sebuah kesatuan yang solid.
Membaca buku ini seperti membawaku kembali pulang ke dalam hangatnya pangkuan genre fiksi sejarah. Akar jatuh cintaku akan membaca buku, yang membuatku sering tenggelam dalam balutan aksara yang kelam, kelabu, diramu dengan unsur informasi yang bisa jadi pengetahuan liar tak terpatri dalam pelajaran sejarah masa lampau.
Tanpa disadari aku pulang, pulang ke pangkuan fiksi sejarah dalam latar belakang kerjaan Inggris saat kerakusan dunia "koloni" terhadap negara-negara kecil yang tertindas. Menguar bak virus yang asing menjajah kekebalan tubuh.
Aku harus sepakat, bahwasannya cerita dalam buku ini tidak biasa. Sesuatu hal yang baru dan menyegarkan. Membangkitkan rasa rindu akan genre dalam balutan petualangan, perjuangan, keidealisan, juga nasionalisme. DIsuguhkan dalam setting waktu abad ke 18 dalam perjalanan tokoh-tokohnya yang adalah mahasiswa-mahasiswa cerdas yang terpilih.
Izinkan aku untuk bertepuk tangan akan brilliantnya sang penulis R. F. Kuang. Jelas rasanya banyak yang terkesima dengan kelihaian beliau menulis novel ini. Sampai di sini, tidak aterbersit rasa kecewa setelah membacanya.
Terimakasih sudah membaca



Comments
Post a Comment