Luh, jika kamu tak dilahirkan… Korpus Uterus-Sasti Gotama.
![]() |
| Photo by DJOUNEY.MY.ID |
Petikan Cerita
Perkenalanku dengan Luh atau Panuluh.
Membuatku ingin berkata “Luh… Luh…. Aku seperti ingin berteriak dan menyelamatkanmu dari dinginnya hidupmu, dari nestapa yang menghantuimu sedari kecil. Ibumu, oh ibumu… Wanita tersakiti yang tak tahu harus berbuat apa kepadamu. Tanpa tedeng aling-aling keberingasan kehidupan tahun 1960 menghancurkan kehidupannya.” Ingin ku bisiki gelapnya kehidupan ibumu, serta kejamnya mereka pada perempuan-perempuan yang mereka ciduk dam mereka botaki! Ingin ku ludahi saja mereka semua! Tengiknya perilaku mereka pada perempuan-perempuan yang belum tentu bersalah.
Ah Luh! Benar adanya mungkin bayi-bayi dalam rahim dalam ibu yang terluka dapat memilih. Apakah mereka mau dilahirkan atau tidak. Namun mungkin kontrak kerja tersebut sudah terlaksana. Aku sempat bersyukur saat kau bertemu mbak Nur yang bukan main kepadamu, namun kehidupan harus menghempaskanmu pada drama-drama kehidupan yang tak ada ujungnya.
Luh, kamu diberkati dengan otakmu yang begitu cerdas, sampai-sampai dokter Markus terkagum-kagum padamu. Kamu magnet yang langka, wangimu harum hingga membuatnya tergila-gila. Tapi lagi-lagi nasib membawamu pada orang-orang yang tak dinyana adalah orang-orang yang pernah kau temui di sekelilingmu.
Luh, cerita kehidupanmu diliputi oleh karakter-karakter perempuan hebat. Perempuan-perempuan yang terjajah Patriarki, perempuan-perempuan yang menyimpan keserakahan laki-laki akan wanitanya. Ah aku gemas sekali setiap membaca cerita kehidupan perempuan di sekelilingmu.
Aku tau kamu baik Luh! Aku tau dibalik banyaknya kontroversi yang ditampilkan dalam cerita kehidupanmu. Kamu memiliki jiwa yang tulus untuk menolong. Menolong banyak orang yang diam-diam membutuhkan pertolonganmu. Kamu seperti fajar pagi hari, bagi mereka yang menemukan jalan buntu. Agar mereka dapat men eruskan kisah hidup mereka kembali, dan tak bertemu jalan buntu.
Ah! Kisah ini panjang 292 halaman banyaknya, mencampur aduk setiap rasa dan gejolak dalam dadaku Luh. Setiap lembar dalam ceritamu ku nikmati dengan khidmat. Sempat terbata-bata karena dari awal ceritamu sudah membuat kepalaku pening.
Aku kagum dengan penciptamu Luh
Cerdas sepertimu. Dari tutur kata yang ditorehkan dalam cerita hidupmu dan orang-orang sekitarmu. Begitu mewakili kerasnya kehidupan di setiap waktu dan zaman. Aku baru saja menyelesaikan Babel karya R.F Kuang Luh, yang tidak jauh berbeda genre ceritanya dengan genre cerita hidupmu.
Tapi aku dikagetkan dengan ketakziman cerita hidupmu yang sungguh kelabu namun juga penuh warna. Aku yakin sekali Luh, dari ceritamu banyak wanita yang tertriger saat membacanya. Belum lagi yang ikut ingin meludahi tokoh-tokoh bajingan yang ada dalam hidupnya. Sama sepertiku Luh, yang ingin meludahi karakter bajingan yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia.
Ah Panuluh! Rasa-rasanya pertemuan denganmu meninggalkan kesan yang begitu mendalam. Akan kisah-kisah perempuan Indonesia, termasuk akupun yang begitu nelangsa, namun juga membuatku bangga. Diantara sakitnya kehidupan wanita, dunia tetap berputar dan hidup harus tetap berjalan. Sekeji apapun dogma-dogma dan aturan yang dibuat oleh bajingan mabuk dokma namun seringnya cuci tangan atas nama dokma-dokma itu.
Hingga akhir hayat nanti
Aku hanya bisa memberikan sebuah wejangan pendek untuk yang penasaran dengan jalan cerita hidupmu luh “Untuk membaca kisahmu dengan perlahan, bila terlalu menyayat hati berhentilah. Jangan kau teruskan lagi. Jika kau sanggup melahapnya hingga selesai, selesaikanlah. Terakhir dariku, untuk kamu, aku dan perempuan-perempuan hebat di belahan dunia sana. Kamu tidak sendirian.”
Terimakasih sudah membaca



Comments
Post a Comment